Kamis, 20 September 2012

Meyakini Kemujaraban Hukum Allah untuk Kehidupan Manusia






Allah telah meyakinkan kepada manusia tentang kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah, yang didalamnya terkandung  petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum yang perlu dipatuhi oleh umat manusia.


Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (QS. 2:2)

Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (QS. 10:37)

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin? (QS. 5:50)

Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, Dialah yang menciptakan manusia dengan dilengkapi  aqal dan hati, namun aqal dan hati manusia baru akan berfungsi dengan benar dan sempurna bila telah diatur dengan mengikuti hukum-hukum Allah. Bila manusia telah mentaati hukum-hukum Allah, bertekun dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka sampailah manusia pada derajad manusia yang arif bijaksana, manusia yang diliputi petunjuk Allah manusia yang diberi hikmah oleh Allah
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS. 39:23)

Umat islam perlu meningkatkan keyakinannya tentang Ke Maha Bijaksanaan Allah tentang hukum-hukum yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena di dalamnya terkandung kelengkapan yang akan mengatur Jasmani dan Rohani Manusia.

Banyak orang yang tetap saja menjadi jahat walaupun telah berkali-kali keluar masuk penjara, namun dengan dipenjara tidak membuatnya jera untuk berbuat kejahatan. Banyak pula orang-orang tua yang telah berkali-kali memukuli anak-anaknya agar anaknya menjadi baik.  Namun semakin anak-anak dipukul maka semakin bertambah jahatnya dan bahkan menumbuhkan dendam dihati yang tumbuh berkembang bersama pertumbuhannya menuju kedewasaan.

Tidak ada yang lebih mudah dan lebih tepat, mengatur kehidupan masing-masing diri manusia kecuali dengan mengikuti cara hidup Rasulullah SAW, mengamalkan  Sunnah-Sunnah Rasulullah dalam mengamalkan Al-Qur’an, hal tersebut disatu sisi akan menumbuhkan kelezatan dihati untuk tetap baik dan sholih, dan disisi lain akan menumbuhkan rasa menyesal kenapa kita sering terpeleset mengisi hidup dengan hal-hal yang memperbesar dosa dan kekotoran hati.

Sistem hukum dan pengadilan yang dibuat oleh manusia  tidak akan dapat menghadirkan malaikat untuk membantu manusia dalam beramal sholih, atau mengusir syaitan yang senantiasa mengajak manusia untuk mencelakakan diri, berbuat jahat  dan durhaka kepada Allah.

Namun Hukum Allah, firman Allah mampu menangani itu semua. Dengan mencintai hukum-hukum Allah, mencintai mengamalkan Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka ketertiban, kedamaian, kebahagiaan umat manusia akan lebih cepat terwujud dengan cara yang lebih murah dan dengan kwalitas yang jauh lebih tinggi.

Memang Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak akan mengatur hukum di dalam kehidupan dengan sangat mendetil seperti misalnya bagaimana mengatur sebuah lalulintas di sebuah kota metropolitan, dsb.

Namum manusia yang telah memiliki hikmah dan kearifan, memiliki kesholihan akan dapat membuat hukum yang lebih tepat dan adil tentang tata cara berlalu lintas yang baik, sehingga dapat mengatasi kesulitan dan kerumitan dalam masalah-masalah yang detil. Dan tentunya untuk masalah-masalah kehidupan yang lain-lainnya.

Memang sebenarnya seluruh umat manusia membutuhkan sebuah aturan dan hukum yang datangnya dari Allah, khusus buat untuk mengatur diri mereka masing-masing, agar tiap-tiap diri bisa menjadi manusia yang lebih arif, lebih bisa bersikap adil, dan lebih bisa mengungkapkan segala sesuatu dengan lebih bijaksana. Segala Puji Bagi Allah, sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, Tuhan Langit dan Bumi, Tuhan segala sesuatu.

http://www.mta-online.com/2009/02/28/meyakini-kemujaraban-hukum-allah-untuk-kehidupan-manusia/

Bersikap Kepada Dunia Sesuai Sunnah Rasulullah






Rasulullah Muhammad SAW manusia kekasih Allah, telah diberi petunjuk oleh Allah bagaimana agar selamat hidup di dunia dan di akherat, hamba yang selalu dilindungi oleh Allah, yang diselamatkan, diampuni dan dirahmati beliau pernah bersabda yang artinya


Sesungguhnya Allah melindungi hambaNya yang mukmin dari godaan dunia dan Allah juga menyayanginya sepertihalnya kamu melindungi orangmu yang sakit dan mencegahnya dari makanan serta minuman yang kamu takuti yang akan mengganggu kesehatannya. (HR. Al Hakim dan Ahmad)

Segala puji bagi Allah, perlu bagi kita untuk menempuh jalan-jalan Rasulullah agar kita dilindungi Allah sebagaimana Allah melindungi beliau. Agar Allah melindungi hati kita, pikiran kita, kemauan kita dan perbuatan kita. Beliaupun telah mensabdakan yang artinya

Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Sebagus apapun keadaan di dunia ini, dan banyak orang yang berlomba-lomba sekedar untuk mendapatkan kelezatan hidup di dunia, maka apa yang diperolehnya sama seperti yang digambarkan Rasulullah diatas, sehingga bagaimana kita menuntut fikiran dan hati kita untuk dapat berbuat yang menyelamatkan diri, maka semuanya harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya,

Bagaimanakah cara Rasulullah mensikapi kehidupan dunia, sebagaimana hadist berikut

Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya. (HR. Ibnu Majah)

Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan dibalasi, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung shalat malamnya dan kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain.” (HR. Ath-Thabrani)

Rasulullah menyadarkan kepada umatnya akan pendeknya waktu hidup di dunia itu, namun waktu yang sangat pendek itu sangat-sangat bermanfaat, sehingga harus diisi dengan hal-hal yang sangat bermanfaat. Malaikat jibril mengajari Rasulullah mengisi kehidupan, agar selalu berbuat kebaikan, karena seluruh amal akan dibalas, dan agar lebih mencintai Allah, karena semua yang dicintai akan berpisah, dan kemuliaan hidup didunia dapat dibangun dengan banyak bersujud kepada Allah, dan kewibawaannya dapat dipertahankan dengan bersikap suka memberi dan membantu dan tidak bersikap suka meminta dan ditolong.

Rasulullah sangat memahami hal-hal apa yang dapat merusakkan kemuliaan umat manusia, merusak hubungannya dengan Allah. Godaan-godaan apa yang dapat menjatuhkan kemuliaan dan kewibawaan manusia, belia menyampaikan kepada kita yang artinya

Dunia ini cantik dan hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kamu kholifah dan Allah mengamati apa yang kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan dunia. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa bani Israil adalah godaan kaum wanita. (HR. Ahmad)

Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok (makanan). Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Kemuliaan, ketinggian dan kewibawaan umat islam dan umat manusia sering terjerembab oleh cintanya yang bersangatan kepada dunia atau juga kepada wanita, dan kemudian dua hal tersebut membawa diri mereka melupakan tugasnya kepada Allah dan kepada tugas mulia yang harus diemban. Umat islam perlu berhati-hati, sering seseorang menjadi terpana dengan panggung dunia dan sangat menyenangi keindahan panggungnya, sehingga waktunya di dunia yang sanat pendek habis hanya untuk terpana pada dunia yang akan ditinggalkan. Atau tergoda dan terpana dengan rayuan yang sangat menggiurkan dari lawan jenis yang menghabiskan waktu yang yang amat pendek di dunia ini dengan sekedar bernikmat-nikmat dengan wanita.

Rasulullah SAW sangat mewanti-wanti tentang godaan dunia, seharusnya umat islam mendasari dirinya dan anak-anak turunnya dengan ilmu agama dan melatih diri bagaima cara mengamalkannya, karena siapapun kita dapat terpeleset terjerembab dalam godaan keindahan dunia, bahkan Rasulullah sangat mengkhawatirkan tentang agama seseorang dengan ujian godaan dunia, sehingga beliau menyampaikan khabar yang artinya

Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan. (HR. Ahmad)

Betapa indahnya pesan-pesan Rasulullah SAW kepada umat Islam, keindahan dunia di jaman Modern begitu gemerlap dan menghabiskan waktu untuk disentuh dan dinikmati, bila manusia tidak waspada maka waktunya yang amat pendek di dunia habis hanya untuk mencintai dunia, dan kemudian menelantarkan tugas utamanya

Ketinggian derajad dan wibawa manusia dapat ditekuni dengan selalu beribadah kepada Allah. Bersungguh-sungguh mencintai ilmu Al-Islam(Al-Qur’an dan As-Sunnah), beriman dan beramal sholih.

Dalam jaman super modern seperti sekarang ini, membangun generasi yang sukses dunia dan akhirat harus diawali dengan fondasi ilmu, iman dan amal sholih, agar segala fasilitas dunia yang generlap tidak lagi merugikan, tetapi dapat terjadi sebaliknya yaitu dunia yang indah dan maju dapat menjadi sarana untuk tersebarnya kebenaran dan kesholihan, dengan lebih mudah dan lebih cepat serta penuh berkah. Wallahu’alam.

http://www.mta-online.com/2009/03/04/bersikap-kepada-dunia-sesuai-sunnah-rasulullah/

Rabu, 19 September 2012

Cara Ajaib Merombak Karakter Jahat Dalam Diri






Merombak karakter diri yang masih menyenangi dosa dan kejahatan bukan sesuatu yang mudah. Islam mengajari kita merombak secara cepat segala karakter jahat yang masih melekat pada diri kita. Bekas ukiran perbuatan buruk didalam jiwa telah membuat karakter yang merugikan bagi diri. Menghasilkan sifat-sifat jahat, karakter jahat, hidup berlelah-lelah dalam tipu daya syaitan bergelimang dengan kejahatan.


(QS. Asy-Syams: 5 – 10)
dan langit serta pembinaannya
dan bumi serta penghamparannya
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.


Segala rahasia jiwa manusia ada ditangan Allah, sifat jiwa manusia adalah spesifik seperti halnya ciptaan Allah yang lain yaitu langit ataupula bumi yang memiliki sifat-sifat yang spesifik.  Untuk merombak karakter jahat kita, janganlah kita merasa putus asa dengan keadaan kita yang sudah bergelimang dosa, sebagaimana firman Allah yang artinya:

Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 39:53)

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (QS. 39:55)

supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS. 39:56)

Mengikuti sebaik-baik apa yang diturunkan oleh Allah adalah, dengan cara mengikuti majlis-majlis ilmu yang membahas dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan berusaha mengamalkan keduanya dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya kita harus bersegera meninggalkan lingkungan yang membuat kita suka berbuat jahat dan segera berlari kepada lingkungan yang dapat memudahkan kita untuk bertaubat dan segera berbuat yang baik-baik, sebagaimana firman Allah yang artinya

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. …………….(QS. 6:70)

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18:28)

Sekecil apapun sumber-sumber informasi yang dapat menggelitik jiwa kita untuk merangsang berbuat jahat dan buruk harus kita tutup rapat-rapat. Baik itu media elektronik, media kertas, atau pula media-media yang lain termasuk teman-teman pergaulan.

Memaksa diri untuk bergabung dengan orang-orang sholih adalah jalan tercepat memperbaiki karakter buruk dalam diri. Jiwa yang buruk didominasi oleh bisikan-bisikan syaitan sedang jiwa yang bersih dipenuhi oleh bisikan malaikat. Hidup bersama orang-orang sholih akan memperkuat bisikan-bisikan kebaikan dan melemahkan bisikan-bisikan kejahatan.

Berikutnya adalah dengan banyak berzikir kepada Allah, sekaligus memahami makna zikir-zikir yang telah diucapkan baik secara lisan atau didalam hati. Allah Tuhan pemilik seluruh Kemuliaan, Tuhan yang Maha Mulia, kita berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan sifat-sifat mulia yang Allah ajarkan kepada kita

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. 33:41)
Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. 33:42)
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. 33:43)

Langkah selanjutnya adalah suka bersama orang-orang yang hidup berjalan fisabilillah, mendakwahkan kebenaran Allah, memuliakan Allah di setiap saat.
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. 47:7)
supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya.Dan bertasbi kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. 48:9)


Berikutnya adalah selalu melatih diri dan membiasakan diri mengamalkan amal-amal sunnah yang diajurkan Rasulullah Muhammad SAW, dengan membiasakan diri mengamalkan-amal-amal tersebut maka Allah akan meletakkan petunjuk kedalam hati kita

………..tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan.Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. 49:7)

Berikutnya kita harus rajin melatih diri untuk menjual diri kita kepada Allah. Mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya kita dibeli oleh Allah. Dan selalu melatih diri untuk memiliki sifat-sifat yang mulia sehingga Allah mau membeli kita.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. …………..(QS. 9:111)

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, memuji (Allah), yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu. (QS. 9:112)

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (QS. 61:10)

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, (QS. 61:11)


niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. 61:12)

Hidayah Islam telah merubah masyarakat di jazirah Arab dari bangsa jahiliyah menjadi bangsa yang beradab, dalam waktu tidak lebih satu generasi (25 th). Allah memberi hidayah kedalam hati mereka dan mereka bersyukur kepada Allah dengan menjalankan syariat Allah, mereka tinggalkan adat istiadat dan karakter jahat yang ada pada mereka dan kemudian hidup mengikuti bimbingan wahyu agama Allah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tujuan hidup dan jalan hidup yang salah, telah membentuk karater diri yang buruk dan jahat. Dengan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan dapat memperbaiki kesadaran tentang arah tujuan hidup dan cara menempuh jalan hidup yang benar sesuai kehendak Allah Tuhan semesta alam.

Ikutilah aktifitas manusia-manusia yang belajar dan mengajar Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan ketekunan dan ikuti pula usaha-usaha serius dalam mendakwahkan keduanya dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh, jalan demikian itulah yang dapat merubah karakter diri yang buruk berubah secara cepat dan ajaib.

Written by A Rahmatullah
Wednesday, 24 December 2008

http://www.mta-online.com/2009/03/05/cara-ajaib-merombak-karakter-jahat-dalam-diri/

Iptek Menuju Akherat !






“..semakin sains dan teknologi berkembang, terindikasi semakin sedikit manusia yang bersyukur. Malah kejahatan dikalangan manusia bertambah kejam. Adakalanya manusia bukan lagi seperti manusia lagi, karena sudah hilang kemanusiaanya..”

Didalam kamus bahasa, Sains diartikan dengan ilmu pengetahuan yang sistematik, boleh diuji dan dibuktikan kebenarannya. Selain itu juga sebagai cabang ilmu pengetahuan yang berdasar kebenaran dan kenyataan seperti fisika, kimia, biologi, matematika, astronomi dan lain sebagainya.


Kemudian Teknologi adalah aftifitas canggih “pada saat itu” dengan berdasar pada pengetahuan sains untuk tujuan memudahkan pekerjaan manusia seperti dibidang komunikasi, industri, perdagangan, pertanian dan sebagainya.

Seperti yang telah kita ketahui dan rasakan bersama  bahwa berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi. Maka proses dakwah dan ukhuwah Islam bisa lebih maju dan semakian cepat berkembang dimanapun berada.

Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melaju terus demi menciptakan cara dan metoda yang mudah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Apa yang diinginkan manusia akan mudah dicapai, apa yang diangankan dengan mudah didapat. Tetapi apakah semua itu pasti memberikan kesejahteraan dan kedamaian di dunia ini ? Tentu Tidak ! begitulah jawabnya, sebagian manusia akan merasa bahagia dengan teknologi , dibelahan bumi lain sebagian manusia menderita dan terkoyak kedamaiannya karena teknologi itu sendiri. Itupun yang terjadi di alam dunia, bagaimana dengan jaminan keselamatan di akhirat kelak ? bukankah kita mengaku beragama, mengaku percaya hari akhir dan hari sesudahnya?

Kemajuan peradaban manusia di bumi tanpa ditunjang oleh iman dan taqwa maka hanya menguntungkan sementara  kepada sebagian pihak dan pada akhirnya tersalah gunakan untuk merusakkan manusia secara global.

Dari dua sisi mata pedang yang tajam, sisi negative sebuah kemajuan sains dan iptek dapat melahirkan manusia yang ponggah, gemblung, tamak, bakhil, egois, menindas, zinaisme, mubazirisme, bebal, bengis, penumpuk harta, lupa kepada Allah SWT bahkan lupa akan kemanusiaan yang ada pada dirinya dan 1001 model kejahatan lainnya.

Bukankah Allah SWT memberikan firman pertamanya
“Bacalah dengan nama Tuhan yang menciptakan” (TQS. Al Alaq : 96 : 01)

Kata Iqra (Bacalah !) bukanlah dimaknai secara letterlek dengan membaca sebuah teks apalagi buku. Apalagi memahami bahwa Malaikat Jibril membawa sebuah teks tertulis. Betul sekali ! bahwa Iqra disini merupakan sebuah kata kerja. Tetapi objek dari kata kerja tersebut tidak disebutkan secara khusus, bukan?  alias objek yang kudu dibaca adalah bersifat umum. Iqra bukan hanya sekedar membaca teks atau naskah, tapi lebih luas lagi! Menelaah, riset, merenungkan, eksperimen, berkarya, modifikasi dan sebagainya.

Objeknya adalah  firman-firman Allah SWT dalam Al Qur’an maupun Hadist shahih Rosululloh SAW, fenomena alam dan sosial, maupun hasil karya manusia berupa “ramuan-ramuan” iptek dari waktu ke waktu sejak jaman keemasan Islam sampai dengan sekarang baik berupa pemikiran ataupun produk.

Mengaitkan “membaca” dengan nama Allah SWT bermakna agar pelaku melakukan kegiatan ilmiah dengan penuh keikhlasan mencari ridho Allah SWT. Sehingga ilmu yang didapat akan lebih membarakan sifat khauf, takut kepada Allah SWT.

Fakta dilapangan seringkali manusia lupa diri, apalagi telah berhasil berbuat sesuatu yang hebat!. Berapa banyak tukang ilmu : sarjanan, doctor bahkan professor yang malah berbalik menjadi seolah atheis setelah mengetahui tentang ilmunya. “Where is the God ?” kata mereka, bukankah semesta ini berjalan dengan sendirinya?. Mungkin itulah yang disebut arogansi intelektual.

Mustinya, dengan menggenggam iptek maka akan semakin kecil diri kita. Bukankah Allah SWT dalam firmannya menyebutkan :
“ Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (TQS. Al Kahfi : 18 : 109)
Kita akan semakin merasa kecil, dan sadar bahwa Allah itu Maha Luas, unlimited. Yang kita inginkan adalah penyadaran diri bahwa manusia ini diciptakan tidak lain tidak bukan untuk menyembah Allah SWT.


“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “ (TQS. Ad Dzariyat : 51: 56)


Allah telah berikan fasilitas akal dan panca indera untuk menjadi khalifah dimuka bumi, termasuk hak penuh mengelola alam dan isinya demi kesejahteraan manusia dibumi dan alam sesudahnya.

“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di muka bumi ini ” (TQS. Al Baqarah : 02 : 30)
“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi ini ” (TQS. Al Fathir : 35 : 39)


Janganlah pemberian kedudukan yang paling mulia diantara makhluk lainnya itu, kita “turunkan” sendiri menjadi hina dina bahkan sampai-sampai menjadikannnya lebih jelek dari seekor binatang (Naudzubillah…). Semua itu berawal dari  kesombongan karena telah mengetahui setitik ilmu diantara lautan yang maha luas dari Ilmu Allah SWT. Dan manusiapun tidak pernah sempurna !

Semoga bisa menjadi renungan bagi penggemar ilmu dan amal :)

http://www.mta-online.com/2009/03/06/iptek-menuju-akherat/

Manajemen Stamina Iman


keimanan-mta

Rasulullah bersabda “Al imanu yazid wa yankus”. Iman itu naik dan turun. Layaknya keimanan manusia yang naik dan turun, pada semangat pun dapat terjadi hal tersebut.

Memang, semangat dan keimanan memiliki suatu hubungan yang dekat. Seseorang yang sedang turun keimanannya pasti akan turun pula semangatnya untuk beribadah, belajar, ataupun segala macam perbuatan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula sebaliknya.

Merupakan hal yang sangat maklum ketika kita duduk di suatu majelis ilmu mendengarkan ceramah atau kajian dari sang ustadz kemudian hati kita menjadi “sangat” bersemangat. Setelah bangkit dari majelis kita akan ‘berencana’ menjalankan kebaikan disetiap detik kehidupan dan menjauhi atau menghancurkan segala bentuk kemaksiatan dan keburukan sebelum ajal menghadang. Tapi setelah beberapa menit setelah bangkit …(Selanjutnya terserah anda) yang pasti, hampir semua dari kita sering mendapati penurunan motivasi bahkan amal (ilmu yes, amal not yet)

Tapi jangan salah lho walaupun baru rencana, itu merupakan indikasi bahwa hati kita masih dalam kondisi ‘iman’, sebab salah satu ciri manusia beriman adalah jika disiram ilmu maka akan bertambah faham dan semakin yakin.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (QS.08 : 2)

Seorang pelari marathon mempunyai satu tujuan. Sampai di pita finish dan memenangi pertandingan. Pelari yang professional mempunyai teori dalam memanage staminanya, sangat mungkin pada kilometer pertama bukanlah yang terdepan tetapi menginjak step-step terakhir akan mengeluarkan semua kemampuan untuk berlari menjadi nomor satu dan mempertahankannya dari peserta lain.

Begitu juga bagi seorang mahasiswa. Dia sangat yakin bahwa belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah sia-sia. Belajar dengan rutin, mendengarkan kuliah dengan serius dan berani bertanya sampai benar-benar faham merupakan modal yang sudah cukup dalam menghadapi soal-soal ujian (kecuali jika pengin lebih).

Trus apakah ilustrasi tersebut sama dengan pemeliharaan ‘Iman’ yang ada dalam diri kita? Yup! Betul hampir sama. Satu hal yang membedakan adalah adanya misteri datangnya kematian. Berbeda dengan pelari dan mahasiswa tadi, karena garis finish dan ujian merupakan hal yang pasti dan terukur.

Untuk memelihara atau menjaga stamina iman menuju kehidupan sesudah mati (syurga) kayaknya perlu bantuan sebuah rumus fisika.
rumus
Dimana :
W = adalah beban hidup
P = daya dorong
Fs = gaya gesek

Bola merupakan lambang kehidupan yang berjalan terus/menggelinding tapa henti sampai titik kematian (misteri) . Tidak dapat mundur tapi sangat mungkin untuk berbelok menjauhi jalan yang lurus.

Dalam menjaga stamina iman, ada beberapa kaidah yang harus difahami :

1. Semua manusia mempunyai potensi untuk “salah”. Maka Allah memberi penghargaan kepadanya dengan aturan “sebaik-baik orang yang berlaku salah adalah bertobat dan memperbaiki diri”. Dan sejelek-jelek manusia yang bersalah adalah … (tahu sendiri khan!). Silahkan baca QS. 25:70.

2. Semua manusia berpotensi untuk bosan dan jenuh (futur). Maka kenali ciri-ciri kondisi futur, macam penyebabnya dan cara-cara untuk memperbaikinya.

3. Hati manusia berkarakter ‘berubah-ubah’. So, bagaimana kita bisa mengkondisikan agar selalu lebih banyak berpihak dalam kebaikan. Salah satunya hadir di taman-taman ilmu dan memilih lingkungan yang sholeh. Jangan lupa! Selalu berdoa diberi ketetapan hati (minimal sesudah dzikir shalat)

Yup, sekarang mari kita bahas rumus diatas :)
Dari gambar terlihat jelas bahwa ’bola’ kehidupan kita akan didorong oleh Daya dorong (P). Logikanya semakin kuat daya dorong maka akan semakin kuat dalam keimanan (tidak berbelok ke arah yang salah) dalam mengarungi hidup sampai mati.

Kekuatan daya dorong keimanan yang ada dalam diri kita sangat tergantung dari ilmu dan amalan ibadah yang dimiliki dan yang sudah diamalkan. Perbanyaklah ilmu dan perbanyaklah ibadah (tidak hanya yang wajib saja) maka kekuatan dalam menjalani hidup sesuai perintah Allah & Rosul-Nya semakin kuat. Bukankah Iman akan naik dengan perbuatan ’baik’ dan turun karena berbuat ’maksiyat’?

W adalah Beban Hidup. Sering kali terjadi, seseorang yang terkenal alim (baca:sholeh) tapi dalam suatu waktu terbukti melakukan korupsi atau kecurangan. Hmm, mungkin inilah salah satu contoh bagaimana beban hidup (tuntutan kebutuhan duniawi) membuat laju keimanan menjadi berbelok.

Semua manusia mempunyai beban hidup dan tingkatnyapun berbeda-beda. Hanya Allah SWT yang tahu beban yang akan diberikan makhluk ciptaan-Nya, kita hanya bisa mengira-ngira dengan berpikir positif. Bukankah Allah SWT tidak akan memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya?
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya … (QS.02:286)

Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah : kadang-kadang kita menjadi terbebani suatu hal karena keinginan kita yang tidak terukur. Tahun ini harus punya mobil? Harus punya rumah? Harus punya begini atau seperti harus begono..padahal kita tidak cukup mampu dan belum merupakan hal primer atau bukan pendukung ibadah. So ketika ada tawaran untuk bermaksiyat atau tidak jujur, kita menjadi tergoda (terperosok) karena tidak sabar alias pengin jalan pintas saja.

Singkatnya, beban hidup akan selalu ada. Kita harus yakin bisa mengatasinya, agar jalan hidup kebaikan tetap lurus.

Fs adalah gaya gesek. Gesekan akan selalu terjadi dalam hidup baik dari internal (hawa nafsu keburukan) atau eksternal (lingkungan). Pertentangan antara mengamalkan kebaikan dan menuruti keinginan nafsu pribadi atau pengaruh lingkungan akan selalu ada. Kondisi yang mengkhawatirkan adalah ketika kondisi internal (hawa nafsu kejelekan) cocok dengan eksternal (lingkungan yang jahat).

Tips yang utama adalah giat melakukan ibadah, menjaga diri dari pandangan/kegiatan maksiyat, tetap mencari ilmu, mengkondisikan lingkungan/ keluarga untuk mendukung ibadah kita semua dan tetap berdoa kepada Allah SWT. Bagi yang tidak beruntung karena berada di lingkungan yang tidak jujur atau penuh maksiyat silahkan bersiap diri untuk berani peduli menegur, jangan asal ’pokoknyasaya tidak’. Bersiaplah berhijrah jika memang diperlukan sebelum Allah memberikan azab yang menimpa kepada semua.


Semoga kita bisa ikhlas dalam mencapai khusnul khatimah :) Amin.
(Gambar diambil dari Indonesian.cri.cn)
Sumber :  Catatan Kajianku 23-12-2007 (CisarantenKulon 151, Bandung)

http://www.mta-online.com/2009/04/01/manajemen-stamina-iman/

Sensitif Terhadap Waktu

time-mtaMenunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa (Ibnu Atha’ilah) Sesungguhnya waktu akan menghakimi orang yang menggunakannya. Saat kita menyia-nyiakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang sia-sia.

Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu.

Allah SWT menegaskan bahwa orang rugi itu bukan orang yang kehilangan uang, jabatan atau penghargaan. Orang rugi itu adalah orang yang membuang-buang kesempatan untuk beriman, beramal dan saling nasihat-menasihati (QS Al Ashr [103]: 1-3).

Menunda amal
Ciri pertama orang merugi adalah gemar menunda-nunda berbuat kebaikan. Ibnu Athailah menyebutnya sebagai tanda kebodohan, “Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa.”
Mengapa orang suka menunda-nunda?

Pertama, ia tertipu oleh dunia.
Ia merasa ada hal lain yang jauh berharga dari yang semestinya dilakukan. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Demikian firman Allah dalam QS Al A’laa [87] ayat 16-17.

Kedua, tertipu oleh kemalasan.
Malas itu penyakit yang sangat berbahaya. Orang malas tidak akan pernah meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Tidak ada obat paling manjur mengobati kemalasan, selain mendobraknya dengan beramal.

Ketiga, lemah niat dan tekad, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam beramal.
Salah satunya dengan terus menunda. Seorang pujangga bersyair, Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Juga, waktu itu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan untuk sesuatu yang tidak berharga.

Tidak sensitif terhadap waktu

Ciri kedua, tidak sensitif terhadap waktu. Islam memerintahkan kita untuk sensitif terhadap waktu. Dalam sehari semalam tak kurang lima kali kita diwajibkan shalat. Sehari semalam, lima kali Allah SWT mengingatkan kita akan waktu. Shalat pun akan bertambah keutamaannya bila dilakukan di masjid, berjamaah dan di awal waktu. Karena itu, orang-orang yang mendirikan shalat, pasti memiliki manajemen waktu yang baik.

Sesungguhnya, kita hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang kita anggap penting. Demikian pula dengan waktu. Jika kita menganggap waktu sebagai modal terpenting, maka kita akan sangat sensitif dan perhatian terhadapnya. Kita tidak akan rela sedetik-pun waktu berlalu sia-sia. Orang yang perhatian terhadap waktu terlihat dari intensitasnya melihat jam. Ia sangat sering melihat jam. Ia begitu perhitungan, sehingga kerjanya efektif dan cenderung berprestasi. Penelitian menunjukkan semakin seseorang perhatian dengan waktu, semakin berarti dan efektif hidupnya. Ia pun lebih berpeluang meraih kesuksesan.

Orang sukses itu tidak sekadar punya kecepatan, namun ia punya percepatan.

Kecepatan itu bersifat konstan atau tetap, sedangkan percepatan itu menunjukkan perubahan persatuan waktu. Artinya, orang sukses itu senantiasa melakukan perbaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW bahwa orang beruntung itu hari ini selalu lebih baik dari kemarin. Lain halnya dengan orang konstan; hari ini sama dengan kemarin. Rasul menyebutnya orang rugi. Sedangkan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin disebut orang celaka.

Saudaraku, orang yang memiliki percepatan, hubungan antara prestasi dengan waktu hidupnya menunjukkan kurva L. Dalam waktu yang minimal, ia mendapatkan prestasi maksimal. 

Itulah Rasulullah SAW. Walau usianya hanya 63 tahun, namun beliau memiliki prestasi yang abadi. Demikian pula para sahabat dan orang-orang besar lainnya. Semuanya berawal dari adanya sensitivitas terhadap waktu.

Bagaimana dengan Saya, Anda dan Kita Semua??
Sekarang !!

Referensi :
- Republika & berbagai Sumber

http://www.mta-online.com/2009/07/15/sensitif-terhadap-waktu/ 

Dahsyatnya Manfaat Menulis untuk Dakwah


anak-kecil-saja-menulisفَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا
Nabi saw bersabda: Sesungguhnya sebagian dari penjelasan itu benar-benar sihir. (HR Bukhari).  Menulis merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampang dilakukan dari sisi lahiriyah yang hanya melibatkan anggota bandan mata dan tangan, akan tetapi sangat susah untuk menghimpun dan menyampaikan sebuah ide secara lugas dan tuntas dengan didukung oleh opini yang rasional dan bukti-bukti yang faktual.

” Tak ada resep yang lebih baik menjadi penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga
” Penulis yang berbakat gagal menemukan banyak alasan untuk tidak memulai tulisannya ”
” Sementara orang-orang  yang berbakat sukses, selalu menemukan energi setiap kali gagal ”
” Seringkali yang membuat pena terhenti menuangkan kata adalah keinginan untuk melahirkan tulisan yang banyak disanjung orang. Sementara yang memecah kebuntuan adalah sikap apa adanya dalam menuturkan kebenaran.”

Untuk menjelaskan definisi sebuah kata saja kadang harus membuka beberapa kamus, ensiklopedia dan buku-buku terkait. Apalagi kalau di kalangan para ilmuwan sendiri muncul perbedaan pendapat. Nah di sini orang yang akan menulis harus harus mengambil posisi yang jelas, memihak A, memihak B atau netral.

Ada banyak faktor yang berpengaruh sehingga orang tidak suka menulis dan tidak terbiasa menulis. Yang pertama adalah skill dalam arti kemampuan dan ketrampilan menulis yang lemah. Jangan dikira menulis tidak memerlukan ketrampilan, asal coret saja sudah jadi. Tidak, yang sebenarnya tidak demikian. Dalam menulis ada keterlibatan unsur kognitif dan psikomotor, bahkan afektif. Unsur kognitif memang menonjol, maka orang yang tidak banyak ilmu tidak akan dapat menulis. Padahal bangunan ilmu yang tersusun di dalam otak kita terbentuk dalam waktu yang lama, maka sangat beralasan kalau tidak ada anak kecil yang pandai menulis. Disamping tingkat keilmuan yang rendah, masalah skill dalam menulis yang lemah menyebabkan orang-orang pintar tidak mau menulis.
caramenulis 
“Tanpa Membaca, anda akan sulit sekali Menulis”

Faktor berikutnya adalah will, yakni kemauan atau keinginan. Banyak orang yang kemauannya untuk melakukan sesuatu pekerjaan sangat lemah atau tidak ada sama sekali, karena tidak mengerti manfaat perkerjaan itu. Ambil saja contoh sedekah. Banyak orang yang malas bersedekah, karena nggak faham hakekat sedekah, nggak ngarti manfaat sedekah bagi dirinya. Kalau dia bisa melihat akherat tentu akan berlomba-lomba sedekah. Rasulullah saw berwasiat tangan di atas lebh baik dari tangan di bawah. Begitu pula dengan dakwah, banyak orang yang malas berdakwah karena tidak faham manfaatnya. Padahal dengan dakwah inilah kita dapat menyelamatkan ribuan, jutaan, bahkan milyaran jiwa dari siksa api neraka. Sehingga Allah sendiri menilai dakwah sebagai pekerjaan yang paling mulia (QS 41: 33).

Begitu juga menulis, banyak orang tidak mau menulis karena tidak faham manfaat menulis. Padahal jelas dalam dunia dakwah, menulis itu bagian dari dakwah dan membaca itu termasuk kelompok orang yang didakwahi. Nah, baru tahu kan? Masa mau jadi pelengkap penderita terus, didakwahi terus, disantuni terus.

Maunya yang enteng-enteng terus, membaca. Nggak mau mengangkat yang agak berat, menulis. Dahwah friend, dakwah. Bukan mendadak bilang wah berat dong. Katakan, it’s an honor to me to get involved in dakwah. Kalau perang butuh pasukan, dakwah di dunia nyata butuh pasukan, dakwah di dunia maya (internet misalnya) juga butuh pasukan tentu yang pandai menulis.

Manfaat menulis yang lain adalah untuk menyampaikan informasi, berita, peringatan dan sejenisnya. Dalam dunia modern orang pintar lebih memilih majalah berita, radio berita dan TV berita, karena media inilah yang membikin mereka tidak ketinggalan jaman. Membikin orang semakin pintar, Selalu dapat mengikuti perkembangan yang terjadi di sekitar mereka, di negara mereka bahkan di dunia. Berbeda dengan majalah, radio dan televisi hiburan yang membius kita dengan kenikmatan sensual.

Menulis juga merupakan satu cara untuk mengajar dan mendidik orang lain. Dalam hal ini penulis tidak hanya sekedar menyampaikan berita saja untuk  diterima, tetapi juga menyampaikan analisa untuk dicerna orang lain. Nah, yang begini ini yang lebih sulit dari yang sebelumnya.

Tapi kalau kita sudah melangkah dalam tataran menyampaikan berita, itu sudah merupakan satu langkah yang indah. Langkah berikutnya akan lebih mudah. Rasulullah saw mengingatkan bahwa kalau kita mengamalkan suatu ilmu, maka Allah akan membukakan ilmu-ilmu baru. Nah, kan?

Nggak mau menulis, maka nggak akan dibukakan ilmu-ilmu baru yang terkait dengan tulis menulis.
Menulis juga merupakan salah sau cara untuk mempengaruhi opini orang lain. Baik dalam bentuk media cetak (buku, majalah, surat kabar) maupun elektronik (software, CD, internet dll), menulis sama-sama memiliki kakuatan yang dahsyat untuk mengubah pola pikir orang yang membacanya.

Maka tidaklah mengherankan bila Rasulullah saw bersabda seperti dalam hadist yaang dikutip di atas. Penjelasan dalam bentuk tulisan juga dapat menjadi sihir yang dapat membelokkan pikiran orang lain. Lihatlah kekuatan sihir Al Qur’an yang telah berhasil membelokkan manusia dari jalan sesat menuju jalan yang benar.

Demikian dahsyatnya kemampuan tulisan untuk mempengaruhi orang lain, maka sebaiknya kita suka menulis untuk mempengaruhi banyak orang agar berakhlak karimah. Untuk para da’i jangan hanya bicara, tetapi juga menulis-lah. Kata-kata hanya mempengaruhi sebagian orang yang mendengar, namun tulisan dapat mempengaruhi jutaan orang yang membacanya dari generasi ke generasi.

Last but not least, bagi penulisnya sendiri, menulis itu merupakan bagian dari proses belajar mengajar. Orang yang menulis disamping mengajar orang lain, dalam proses penulisan itu dia juga akan banyak belajar. Banyak buka buku, Al Qur’an, Al Hadist dll. Maka tidak heran disamping dia membikin orang lain menjadi pintar dia sendiri akan semakin bertambah pintar.

Written by Zulfikar Abdurrahman

http://www.mta-online.com/2009/07/17/dahsyatnya-menulis-untuk-dakwah/

Kematian Itu Dekat, Ingatlah Selalu Sobat!


وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS.50:19) . “Kematian” ? hmmm…sebuah pintu oneway menuju alam barzakh, saya pikir semua sepakat bahwa dia akan datang kapanpun dengan sebab apapun (baca:tidur juga sebab) apalagi bagi wong ngaji.


Pada dasarnya, kaum yang mementingkan duniawi adalah bodoh, ceroboh, dan dangkal pikirannya. Hidup mereka tidak berdasarkan logika, tetapi mereka hidup dengan kesesatan dan keyakinan yang salah serta mengikuti sangkaan yang berakhir dengan kekeliruan. Salah satu kekeliruan ini adalah keyakinan mereka tentang kematian. Mereka percaya bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.

Sebenarnya, yang mereka lakukan adalah lari dari kenyataan dengan cara mengabaikan kematian. Tanpa memikirkannya, mereka percaya bahwa mereka dapat menghindari peristiwa itu. Akan tetapi, hal ini seperti burung unta yang menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir untuk mengindari bahaya. Mengabaikan bahaya tidak membuat bahaya itu hilang.

Sebaliknya, orang tersebut berisiko menghadapi bahaya dengan tanpa memiliki persiapan. Akibatnya, ia akan menerima kejutan yang lebih besar lagi. Tidak seperti halnya orang beriman yang mentafakuri kematian dan menyiapkan dirinya terhadap kenyataan yang sangat penting ini, kebenaran yang akan dialami semua manusia yang hidup. Allah memperingatkan orang kafir dalam ayat-Nya,

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (TQS. Al-Jumu’ah : 08 )

Kematian bukanlah “bencana” yang harus dilupakan, melainkan pelajaran penting yang mengajarkan kepada manusia arti hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, kematian seharusnya menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Seorang muslim akan benar-benar merenungi kenyataan penting ini dengan kesungguhan dan kearifan. Mengapa semua manusia hidup pada masa tertentu dan kemudian mati?

Semua makhluk hidup tidak kekal. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan dan tidak mampu menandingi Kekuasaan Allah. Allahlah satu-satunya Pemilik kehidupan; semua makhluk hidup dengan kehendak Allah dan akan mati dengan kehendak-Nya pula, seperti dinyatakan, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (TQS. Ar-Rahmaan: 26-27)

mati 
Gbr. Menuju Malam Pertama di Alam Kubur

Setiap orang akan mati, namun tak seorang pun dapat memperkirakan di mana dan kapan kematian akan menghampiri. Tidak seorang pun dapat menjamin ia akan hidup pada saat berikutnya. Karena itu, seorang muslim harus bertindak seolah-olah mereka sebentar lagi akan didatangi kematian.

Berpikir tentang kematian akan membantu seseorang meningkatkan keikhlasan dan rasa takut kepada Allah, dan mereka akan selalu menyadari akan apa yang sedang menunggunya.

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 34-35)

Semoga bermanfat!, demi menyambut bulan Ramadhan yang dinantikan, marilah kita bersiap…
Bulan Rajab merupakan starting awal untuk menghadapi Bulan Suci Ramadhan. Rasulullah saw. menyiapkan diri untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan selama dua bulan berturut sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Dengan berdoa dan memperbanyak amal shalih.
Do’a keberkahan di bulan Rajab. Bila memasuki bulan Rajab, Nabi saw. mengucapkan, “Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana. “Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”

Hadits di atas disebutkan dalam banyak keterangan, seperti dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam kitab Zawaa’id al-Musnad (2346). Al-Bazzar di dalam Musnadnya -sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astaar- (616). Ibnu As-Sunny di dalam ‘Amal al-Yawm Wa al-Lailah (658). Ath-Thabarany di dalam (al-Mu’jam) al-Awsath (3939). Kitab ad-Du’a’ (911). Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VI:269). Al-Baihaqy di dalam Syu’ab (al-Iman) (3534). Kitab Fadhaa’il al-Awqaat (14). Al-Khathib al-Baghdady di dalam al-Muwadhdhih (II:473).
- kiriman dari warga colomadu -

http://www.mta-online.com/2009/08/10/kematian-itu-dekat-ingatlah-selalu-sobat/

Indahnya Men-Tafakuri Ciptaan Allah



Di dalam Al-Qur`an dijelaskan juga bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah swt. Adalah orang yang tidak mengenal ataupun menyadari adanya tanda-tanda keuasaan Allah SWT. Yang membedakan seorang muslim dengannya adalah kemampuannya untuk melihat tanda-tanda tersebut dan bukti-buktinya. Dia tahu bahwa semua ini tidak diciptakan dengan sia-sia dan dia pun dapat menyadari kekuatan serta keagungan seni Allah SWT di mana pun dan mengetahui cara menghambakan kepada-Nya.Dialah yang termasuk orang yang berakal.

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (TQS. Ali Imran: 191)

Pada beberapa ayat Al-Qur`an, ungkapan seperti “tidakkah kamu perhatikan?”, ”terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” menekankan pentingnya manusia untuk “bertafakur” melihat tanda-tanda keberadaan Allah SWT. Allah menciptakan banyak hal yang tiada putus untuk direnungi. Setiap yang di langit dan di bumi serta di antara keduanya adalah ciptaan Allah swt. dan yang demikian itu menjadi renungan untuk orang yang berpikir. Salah satu ayat memberikan contoh tentang ketuhanan Allah,

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (TQS.an-Nahl: 11)

Kita dapat merenungi sejenak tentang ayat di atas, yaitu tentang pohon kurma. Kurma tumbuh dari biji yang sangat kecil (ukuran biji tidak lebih dari 1 cm3). Dari biji ini tumbuh sebatang pohon dengan panjang mencapai 4-5 m dan beratnya bisa mencapai ratusan kilo gram. Satu hal yang diperlukan biji tersebut untuk dapat mengangkat beban yang berat ini adalah tanah di mana ia tumbuh.

Bagaimana sebutir biji mengetahui cara membentuk sebuah pohon? Bagaimana biji tersebut “berpikir” untuk melebur dengan senyawa tertentu di dalam tanah untuk menciptakan kayu? Bagaimana dia meramalkan bentuk dan struktur yang dibutuhkan?

Pertanyaan terakhir ini sangat penting karena ia bukanlah sebatang pohon sederhana yang keluar dari sebutir biji. Dia adalah organisme hidup yang kompleks dengan akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah, dengan urat dan cabang-cabang yang diatur dengan sempurna. Seorang manusia akan menemui kesulitan untuk menggambarkan dengan tepat sebuah bentuk pohon, ketika secara kontras sebutir biji yang sederhana dapat menghasilkan sebuah benda yang kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.

Pengamatan ini menyimpulkan bahwa biji tersebut sangat pandai dan bijaksana, bahkan melebihi kita, atau lebih tepatnya, ada kepandaian yang menakjubkan pada sebutir biji. Akan tetapi, apa sumber kepandaian tersebut? Bagaimana mungkin sebutir biji memiliki kepandaian dan ingatan sedemikian rupa?

Tidak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki jawaban yang sederhana: biji tersebut diciptakan dan diberi kemampuan membentuk sebuah pohon dengan program untuk proses selanjutnya. Setiap biji di bumi diarahkan oleh Allah swt. dan tumbuh dengan ilmu-Nya. Pada salah satu ayat dikatakan,

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (TQS. al-An’aam: 59)

Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan membuatnya bersemi menjadi sebuah tanaman-tanaman dan tumbuhan baru. Dalam ayat lain dikatakan,

“Sesungguhnya, Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (TQS. al-An’aam: 95)

Biji-bijian ini merupakan salah satu dari sekianBANYAK TANDA-TANDA KEKUASAAN DAN CIPTAAN Allah swt. di alam ini. Jika manusia mulai berpikir tidak hanya dengan akal mereka, tetapi juga dengan hati mereka dan bertanya sendiri, “mengapa dan bagaimana”, mereka akan mampu memahami bahwa semua yang ada di alam ini merupakan bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.

Trik yang paling jitu agar bisa berhasil dalam mentafakuri (memikirkan) ciptaan Allah adalah harus dengan hati dan pikiran yang jernih :) . Hati yang bruwet (tidak bening) apalagi keras dijamin tidak akan bisa mengetahui hikmah itu semua. “Semua itu adalah kehendak Alam!, kita adalah salah satunya” kata orang Atheis. Demikian juga bagi yang senang mengedepankan akal saja, akan selalu melogika apapun dihadapanya. Sampai-sampai ayat-ayat Allah  yang tinggal di-emplok (dilaksanakan) saja masih dipikir rumit. Ingat kejadian Bani Israel dan Sapi Betina ?

Sudah jelas menutup aurat bagi wanita adalah perintah Allah. Dan insyaAllah banyak mengandung hikmah keuntungan bagi pemakai dan lingkungannya. Eee..malah berkelit, ” itu khan budaya arab”, itu khan cuma sebatas dada, itu khan himbauan (bukan wajib) dan atau-atau yang lainnya …
Ya, Allah semoga hamba-Mu ini diberikan hati dan pikiran yang jernih sehingga bisa mengikuti jalan ke syurga-Mu. Amiin.

- Dari Warga Colomadu -

http://www.mta-online.com/2009/08/13/indahnya-men-tafakuri-ciptaan-allah-swt/ 

Dampak Ke-Tauhidan pada Perilaku Manusia

Tauhid (Keesaaan Tuhan) diterangkan dengan ringkas dalam ayat berikut ini :

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (TQS.112:1-4)

Keesaan Allah adalah konsep sentral dalam aqidah Islam. Manusia yang meyakini Allah tidak akan merasa takut atau bergantung kepada siapapun selain Allah; dia adalah manusia yang percaya diri sekaligus rendah hati.

Percaya diri karena dia yakin Allah-lah yang Maha Besar, dan selain Dia hanyalah kecil belaka, sama seperti dirinya. Rendah hati karena kalaupun  dia memiliki harta, kuasa, kepandaian, kecantikan dan ketampanan, akhlak mulia dan sebagainya dia sadar bahwa semua itu pada hakekatnya merupakan anugrah Allah Semata.

Sebab, Allah-lah pemilik sejati segalanya, termasuk pemilik dirinya sendiri. Jika Sang Maha Esa memberi, tiada yang sanggup menghalangi. Jika Sang Maha Esa menghalanagi, tiada yang sanggup memberi.

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (TQS.35:2)

Manusia yang bertauhid, tidak terlalu berpengaruh dengan perubahan-perubahan duniawi yang sifatnya fana, relatif dan sementara ini. Sebab, dia hanya bergantung kepada Yang Maha Mutlak. Dia yakin bahwa semuanya bergantung kepada Yang Maha Esa dan akhirnya kembali kepada-Nya

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (TQS.2:156)

Jika terkena musibah, ia menerimanya dengan sabar tanpa larut dalam kesedihan. Jika mendapat anugrah, dia menikmatinya dengan penuh rasa syukur tanpa terjebak dalam kesombongan. Karena segala hal akan dikembalikan kepada Yang Maha Esa, segenap kehidupannya. Susah atau senang dijalani dengan ringan dan lapang.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (TQS.57:22-23)

Manusia yang mengaku bertauhid seharusnya secara  otomatis akan ber-akhlak baik dan menebar manfaat kepada sesama. Sebab, akhlak menjadi ukuran baik buruknya keimanan seseorang kepada  Allah Yang Maha Esa itu. Perhatikan sabda Rosululloh saw berikut :

“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbak akhalaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya” (HR. Tirmidzi)

“Barangsiapa yang memudahkan kesulitan saudaranya, niscaya Allah akan memudahkan jalannya ke syurga” (HR.Muslim)

“Yang terbaik diantaramua adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR.Thabrani)

Kepada diriku dan Sobatku semua. Mari kita buktikan janji ketauhidan kita dengan memperbaiki akhlak kepada sesama, Allah dan beserta Makhluknya. :)

http://www.mta-online.com/2009/08/15/dampak-ke-tauhidan-pada-perilaku-manusia/

TAQWA, Puncak Kemuliaan Jiwa Manusia


Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar.” (TQS.49:13)

Segala Puji hanya Bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Alhamdulillah Allah telah memasukkan ke dalam hati kita dengan penuh lapang dada. Bukti-bukti sejarah yang berlimpah tentang kemuliaan umat Islam generasi pertama telah menjadi mutiara cemerlang yang tidak akan pernah redup untuk diingat.

Usman Bin Affan, seorang Milyuner di jaman Rasulullah telah masuk kedalam golongan orang-orang yang diketahui akan masuk surga ketika beliau masih hidup di dunia. Siapapun kita, apakah kita ini adalah golongan orang yang sedang kaya harta atau pula kita ini orang yang bercita-cita untuk menjadi kaya harta, maka mendapatkan suatu kepastian bahwa orang kaya rayapun bisa masuk surga yang mulia disisi Allah.

Mungkin pada hari ini ketika bermunculan berderet orang-orang kaya, hati ini bertanya tanya siapakah orang kaya raya harta yang pada hari ini mengikuti jejak sahabat Ustman bin Affan. Bagaimana karakter dan pribadinya, sepak terjangnya, hobinya dan aktifitas hariannya?, semua menjadi tanda tanya besar bagi umat islam dijaman ini.

Ambillah contoh cara berfikir yang mudah. Seseorang ada yang menggunakan sebuah pisau yang amat tajam hanya untuk bermain-main, karena tidak mengetahui manfaat besar pisau tersebut. Bahkan ada juga yang digunakan untuk menakut-nakuti orang lain untuk merampas hartanya. Namun sebuah pisau yang tajam akan dapat digunakan oleh seorang dokter bedah untuk mengeluarkan sebuah tumor ganas dari dalam tubuh seorang pasien, sehingga pasien menjadi selamat dari penyakit yang mematikan.

Ilmu, iman dan amal sholih yang telah diamalkan secara terus-menerus (taqwa) akan membimbing jiwa memiliki kwalitas yang sangat tinggi, sehingga memiliki langkah yang benar dan adil dalam mempergunakan segala nikmat yang telah Allah titipkan.

Jiwa para sahabat Rasulullah SAW, telah terbiasa disiplin mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah yang demikian kuat dalam meninggikan kwalitas jiwa. Walaupun mereka ada yang berprofesi pedagang, ahli bangunan, ahli kesehatan, ahli tanam-menanam, atau apapun profesinya, namun mereka semuanya memiliki pribadi jiwa yang sama yaitu jujur, adil, amanat, dan sederet sifat-sifat baik lainnya.

Umat Bin Khottob ketika telah menjadi amirul mu’minin, walaupun beliau mampu untuk mendapatkan fasilitas apa saja, namun beliau ketika disuguhi daging yang lezat, beliau berhati-hati dalam mensikapinya, jangan sampai kelezatan makanan yang disajikan itu akan melunturkan iman dan taqwanya.

Demikian hati-hati jiwa para sahabat dalam menghargai iman dan taqwa, sehingga walaupun seseorang sahabat itu telah bergelimang harta, pangkat dan penghormatan, namun jiwa dan hatinya senantiasa waspada, jangan sampai itu semua melunturkan iman dan taqwanya.

Maka demikian indah sikap dan tingkah laku para orang kaya, para pemimpin dan para orang-orang terpandang di jaman Rasulullah dan para Sahabatnya. Di dalam hati manusia-manusia yang rajin beribadah kepada Allah, telah muncul amal-amal islami yang ikhlash, yang akan selalu dikenang keindahannya dan kebaikannya sepanjang kehidupan umat manusia.

Iman dan Taqwa telah mengekalkan manusia didalam kemulyaan yang haqiqi. Walaupun mereka berlimpah dengan fasilitas dunia yang melimpah, namun ketaqwaan dan kesholehannya tidak akan terkikis oleh ujian dan godaan dunia.

Andaikan manusia di jaman ini mau menempuh kedisiplinan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah disetiap waktu. Maka kwalitas manusia dijaman hari ini juga akan menggapai pula ketinggian.

Dalam zaman kapanpun ketaqwaan akan selalu membawa manusia untuk melambung tinggi, sebelum kemudian akan terus meninggi menuju Allah Tuhan yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Semoga Allah menuntun kita untuk mencintai jalan-jalan menuju ketinggian yang tidak akan pernah turun.

Wallahu’alam.

http://www.mta-online.com/2009/09/05/ke-taqwaan-jiwa-puncak-kemuliaan-manusia/

Nikmatnya Mengamalkan Ajaran Islam


Bukti akan lebih nyata dari pada sekedar pelajaran teori. Segala puji hanya bagi Allah, banyak amal-amal Islam yang akan terasakan manisnya setelah dikerjakan dalam amal nyata dan sekaligus memiliki bukti yang nyata pula, Allah berfirman artinya

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69)

Seorang Guru yang sholih mengajari murid-muridnya untuk merasakan lezatnya Islam dengan cara langsung dengan mengamalkan amalan-amalan yang nyata. Seseorang akan merasakan manisnya dan lezatnya minuman kopi susu, kalau kopi susu itu langsung diteguknya. Lezatnya kopi susu tidak akan terasakan dengan nyata bila masih dalam bentuk cerita, angan-angan bahkan bisa beda dengan kenyataannya.

Setelah kita berpuasa dan telah bersungguh-sungguh berpuasa, dan telah bersungguh-sungguh mengamalkan segala perintah Allah, dan telah bersungguh-sungguh meninggalkan larangan Allah, apa yang kita rasakan dengan lezatnya amal-amal Islam??? Enak tho…iya..tho..

Segala puji bagi Allah bila kita telah menemukan bukti akan lezatnya amalan-amalan Islam, maka marilah kita bersyukur kepada Allah, baik dengan usaha dhohir maupun usaha batin. Usaha dhohir dilakukan dengan giat mengamalkan amal-amal yang mendatangkan kebahagiaan bagi kita itu dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Sedang usaha-usaha batiniyah adalah dengan berdo’a agar Allah meneguhkan kebenaran itu menjadi kecintaan dihati kita selama-lamanya sebagaimana Allah menuntun kita dengan sebuah do’a yang artinya

(Mereka berdo’a):”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. 3:8)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. 3:9)


Islam yang putih bersih akan tumbuh di tempat yang putih bersih. Jiwa manusia yang masih hitam legam harus diproses lebih dahulu agar dapat menjadi putih bersih. Ketika Hati telah berproses menjadi putih bersih maka kelezatan Islam akan terbukti memang benar-benar lezat dan nikmat.
Seseorang yang sedang sakit akan memiliki nafsu makan yang rendah dan bahkan makanan yang enak-enakpun dikatakan pahit oleh lidahnya. Demikian pula hati dan jiwa yang sedang sakit, amal-amal Islam yang begitu lezat diabaikan dan dikatakan sebagai sesuatu yang menyusahkan.

Tidak ada didikan kecuali bertujuan untuk meningkatkan kwalitas anak-anak didik, agar memiliki kekuatan atau pula untuk meningkatkan ilmu dan pengalamannya. Ketika jiwa dalam keadaan lemah dan sakit maka segala didikkan dirasakan sebagai suatu beban yang menjengkelkan dan merugikan dan menyusahkan. Namun bila telah dipahami tentang tujuan sebuah didikan, maka segala yang nampaknya berat itu akhirnya akan memunculkan sebuah kekuatan yang akan membuat segala sesuatu yang dahulunya terasa berat akan menjadi terasa ringan.

Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Bijaksana, Maha Perkasa, Maha Pengampun, mendidik manusia untuk menjadi makhluq yang mulia, bahagia dan selamat di dunia dan di akherat. Didikan Allah tentunya adalah didikan yang terbaik buat hamba-hambanya.

Shibghah Allah (celupan Allah /didikan Allah).  Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah. (QS. 2:138)

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam………. (QS. 6:125)

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, indahnya ibadah puasa yang telah dengan susah payah kita lewati, marilah kita berjanji dalam hati kita masing-masing untuk dapat terus melazimi hingga akhir hayat kita, untuk selalu bertekun menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah dengan sungguh-sungguh dan dengan senang hati…..Alhamdulillah…

http://www.mta-online.com/2009/09/10/nikmatnya-mengamalkan-ajaran-islam/

Istiqomah sampai Mati


Allah SWT selalu melihat proses hamba-Nya dalam beramal, sebagai pengabdian makhluk kepada penciptanya. Selain nikmat Iman dan Sehat, kita juga diberi umur. Uniknya adalah umur ini tidak diketahui kapan berakhirnya.

Semua orang yang ‘ngaji’ menginginkan mati dalam kondisi khusnul khatimah dengan kata lain meninggal dalam kondisi kebaikan. Disinilah yang menjadi titik perhatian, bagaimana caranya agar hati dan perbuatan kita bisa tetap terus di jalan Allah SWT.

Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti, kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup. Membuat semua manusia menyukai kita adalah sia-sia, tetapi agar dicintai Allah SWT itulah yang hakiki.

Oleh sebab itu agar tidak terombang ambing dan tetap tegar dalam  menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Salah satu pegangan dan amalan penting yang diberikan agama kita untuk menghadapi kehidupan ini adalah Istiqomah.

Istiqomah, yaitu kokoh dalam dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. Begitu pentingnya Istiqomah ini sampai Nabi Muhammad SAW berpesan kepada seseorang seperti dalam hadits berikut:

Dari Abu Sufyan bin Abdillah RA berkata: Aku telah berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu berkata pada orang lain selain engkau. Nabi menjawab,”katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah”.

Orang yang istiqomah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada tantangan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halam, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas, ia tidak tergoda melakukan kamaksiatan.

Orang seperti itulah yang dipuji Allah SWT dalam  Al-Qur’an surat Fushilat (41)  ayat 30
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : ” Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : ” Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Betul sekali bahwa Istiqomah memang bukan perbuatan instant. Perlu proses yang berkesinambungan , tentunya ada hal lain yang perlu dipersiapkan juga yaitu :
  1. Keyakinan akan kebenaran ilmu sebelum amal
  2. Keikhlasan diri hanya karena dan untuk Allah SWT
  3. Terjun dalam komuniti/jamaah/harokah untuk saling menguatkan sehingga tidak merasa sendirian dalam senang dan susah menghadapi ujian dan rintangan
Semoga bermanfaat!

Selasa, 18 September 2012

Keimanan dan Syukur Yang Nyata


Kesyukuran dalam adat istiadat kehidupan masyarakat sehari-hari sering diwujudkan dan ditampilkan dengan cara mengundang makan-makan bersama. Bahkan acara itu ditata dengan suatu seremonial yang apik, sehingga jadilah sebuah adat. Setiap kali orang ingin bersyukur diwujudkan dengan upacara khusus dengan acara-acara yang tersusun rapi, namun inti didalamnya adalah makan-makan.

Allah SWT menyampaikan kepada umat manusia agar manusia itu bersyukur dan menempuh jalan bersyukur sebagaimana firmannya yang artinya:
Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. 39:66)

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (QS. 39:7)

Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhan-mu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. 34:15) )

Bersyukur adalah menerima segala nikmat pemberian Allah digunakan untuk berjalan di jalan-jalan yang dicintai dan diridhio oleh Allah dan sekaligus menjauhi segala jalan-jalan kesesatan dan jalan-jalan yang dimurkai dan dilaknati oleh Allah.

Manusia yang bersyukur adalah manusia yang menerima seruan Allah dengan yaqin, ketika Allah menurunkan kebenaran Al-Qur’an maka itulah nikmat yang sangat besar dijaman ini, dan itulah sesuatu yang harus kita cintai dan kita tekuni untuk kemudian diamalkan, dan itulah jalan-jalan syukur yang nyata. Syukur tidak hanya diwujudkan dengan sekedar makan-makan, namun diwujudkan dengan kepatuhan dan ketundukan kepada Allah.

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar). (QS. 16:9)

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (al-Qur’an) dan dia tidak mengadakan kebengkokan didalamnya; (QS. 18:1)

(Ialah) al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa. (QS. 39:28)

(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (QS. 14:3) )

Orang-orang yang bersyukur adalah orang yang mencintai, membenarkan dan meyakini firman-firman Allah, dan hidup berjalan di jalan-jalan yang telah Allah tuntunkan. Bagaimana Allah telah menjelas-jelaskan dengan sangat jelas dan gambling dalam beberapa firmanNya

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (QS. 42:20)

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (QS. 11:15)
 

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 11:16)

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS. 17:19)
 

Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS. 17:20)
 

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaanya. (QS. 17:21) )

Dari ayat-ayat tersebut sudah sangat jelas, bahwa seharusnya manusia menata kehidupan di dunia dengan tujuan yang kuat untuk mencapai kebahagiaan di akherat. Bila manusia menempuh jalan-jalan akherat maka kebahagiaan dunia akan mengikutinya. Bagaimana perbuatan bekerja keras, keikhlasan, kejujuran, kedermawanan, kesetiaan, dll, itu diarahkan untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal di akherat. Dan dengan itu pasti kebahagiaan di dunia Allah sertakan kepadanya.

Namun sebaliknya bila manusia di dunia ini hanya mengejar kesenangan dunia semata maka manusia akan melupakan kehidupan akherat. Dan kemudian menempuh jalan kesesatan dan kedurhakaan dengan gelap mata, banyak aturan-aturan Allah yang disepelekan dan dilanggar, sehingga hati manusia semakin rusak dan kehidupan manusia semakin carut marut.

Allah berkehendak kepada hamba-hambanya untuk menyusuri kehidupan dunia ini dengan tujuan akherat, senantiasa berbuat amal sholih dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk meninggalkan larangan-larangan Allah. Mengingat kehidupan akherat ketika hidup di dunia adalah sesuatu yang harus selalu dilakukan, sebelum manusia kembali kea lam akherat, apa yang akan kita temukan disana bergantung dengan amal-amal kita sewaktu hidup di dunia.

(Luqman berkata):”Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya) . Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 31:16)
dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (QS. 26:87) (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, (QS. 26:88)
 

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. 26:89)
Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS. 31:33)

Segala puji bagi Allah, semoga peringatan-peringatan Allah yang diberikan kepada kita, segera menyadarkan kita, bagaimana sebenarnya kita ini mengisi kehidupan dengan sesuatu yang bermanfaat dan dicintai oleh Allah. Wallahu’alam

http://www.mta-online.com/2009/10/09/keimanan-dan-syukur-yang-nyata/

Kestabilan Jiwa Dan kehidupan dengan TAQWA

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk Rasulullah Muhammad SAW. Alhamdulillah senantiasa kita bisikkan ke dalam hati kita, betapa Allah telah menunjuki kita dengan kesejukan Islam, kebahagiaan dalam ilmu, iman, amal sholih serta taqwa.

Dari perjalanan sejarah kapanpun dan dimanapun, dan kita jumpai dalam kisah-kisah besar, raja-raja dijaman dahulu, raja-raja yang bijak, senantiasa tidak akan membiarkan anak-anaknya untuk terus menerus tinggal dididik dalam istana yang penuh dengan kemegahan dan kegemerlapan. Namun raja-raja yang bijaksana senantiasa mengirimkan anak-anaknya kepada Guru-Guru yang dapat membawa anak-anaknya untuk memiliki ilmu dan kebijaksanaan.

Dalam cerita hikayat akhirnya ada istilah satriyo turun gunung, artinya bahwa anak seorang raja biasanya memiliki kecerdasan yang lebih, namun dengan diserahkan kepada seorang Guru yang bijak, selain memiliki kecerdasan yang lebih, disana tersimpan sesuatu yang lebih berharga dari kecerdasan itu sendiri, yaitu kearifan dan kebijaksanaan. Kearifan dan kebijaksanaan tidak akan bisa diajarkan dan didikkan dalam suasana hiruk pikuk dan hingar bingar, namun membutuhkan suasana keheningan dan khusu’, suasana yang religius, sikap merendahkan diri dan tunduk patuh kepada Allah Tuhan semesta Alam.

Setiap manusia membutuhkan kelestarian kesejahteraan lahir dan batin bagi dirinya masing-masing, namun dalam jaman yang serba gemerlap seperti sekarng ini, kadang orang awam sulit menemukan bagaimana cara membekali diri dan keluarganya untuk dapat selalu sejahtera lahir dan batin. Allah SWT menyampaikan firmannya yang artinya.
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)
………..Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. (QS. Ath-Thalaaq[65]: 2)
Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaaq: 3)
……….Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. Ath-Thalaaq: 4)


Ketaqwaan adalah sebuah jalan istimewa untuk membangun dan melestarikan kesejahteraan dan kebahagiaan jiwa. Dengan taqwa manusia akan memiliki jiwa optimis dan jalan-jalan kesuksesan yang teguh dan stabil. Orang yang memiliki ketaqwaan akan banyak sekali mendapatkan petunjuk-petunjuk Allah dalam menempuh hidupnya, sehingga hidupnya selalu dalam bimbingan Allah.

Mengandalkan keberhasilan materiil semata, tanpa didasari jiwa taqwa banyak memunculkan kesombongan disaat sukses datang kepadanya, atau pula rasa kepustus asaan disaat dalam kegagalan dan dalam kesulitan yang menghimpit. Sebagaimana firman Allah yang artinya
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yuunus: 12)
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS. Al-Israa’: 83)
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Dia memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang dia pernah berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:”Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.’ (QS. Az-Zumar: 8 )

Pribadi manusia yang tidak memiliki ilmu, iman dan taqwa, memiliki kepribadian yang amat rapuh. Bila sukses datang mereka menjadi lupa kepada Allah, namun bila penderitaan datang mereka menjadi sangat susah dan putus asa. Manusia yang berkepribadian rapuh yang demikian itulah yang hidup mereka di dunia hanya sekedar mencari kesenangan dan mengumbar kesenangan tanpa tujuan yang jelas.

Bagaimana pula bila masing-masing pribadi tidak lagi mengatahui kebutuhan haqiqi dari jiwa dan raganya. Bagaimana pula manusia hendak menelantarkan nikmat jiwa yang bersifat lebih kekal. Dan bagaimana pula akibat yang akan diderita oleh orang-orang yang enggan untuk menempuh sunatullah yang telah Allah tetapkan itu, dapat dipastikan manusia-manusia yang demikian akan merugi di dunia dan di akherat.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Hajj: 11)

Jalan-jalan ketaqwaan adalah jalan-jalan yang harus dilalui oleh orang-orang yang ingin hidup senantiasa dalam kebahagiaan, ketenteraman dan kesejahteraan. Manusia tidak boleh hanya berfokus memburu kenikmatan jasmaniyah saja, namun kenikmatan batiniyah adalah kebutuhan yang lebih mendasar. Jiwa manusia mempunyai sandaran yang amat kuat, yaitu Allah SWT, Tuhan pencipta, pemelihara semesta Alam.

Marilah kita biasakan diri kita dan keluarga kita dan siapapun yang mau kita ajak, untuk memulai aktifitas hidup dengan selalu mendahulukan Allah dari pada mendahulukan yang lain-lainnya. Sebelum berangkat ke pasar, sebelum berangkat bekerja, sebelum berangkat ke sekolah, sebelum berolahraga, sebelum pikiran dan hati sibuk dengan urusan dunia, sibukkanlah dahulu dengan membaca Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar semua itu dapat menjadi warna kehidupan disaat-saat berikutnya.

Demikian pula awalilah malam hari dengan sibuk mengingat Allah, sehingga semalamanpun akan diwarnai dengan aktifitas yang dicintai oleh Allah. Kestabilan jiwa manusia, akan semakin terjaga bila semakin kuat dalam berpegang kepada tali Allah, dan menyandarkan seluruh hidupnya kepadaNya, Wallahu’alam.

http://www.mta-online.com/2009/10/23/kestabilan-jiwa-dan-kehidupan-dengan-taqwa/

Fungsi Al-Qur’an sebagai Cermin Sehari-hari

Segala puji hanya bagi Allah, berapakalikah anda sehari bercermin ???, tentu minimal adalah dua kali, yaitu sehabis mandi saat ketika ingin bersisir. Apa yang kita inginkan dengan bercermin tiada lain karena kita ingin merapikan diri dan menata diri agar tampak rapi bersih dan nyaman serta tapil dengan penampilan yang baik disegenap lingkungan pergaulan. Bagaimanakah dengan keindahan dan kerapihan jiwa-jiwa kita??? sudahkan kita juga sudah bercermin sedikitnya sehari dua kali ??? Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga sentiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan syukur kepada Allah yang telah menunjuki kita untuk hidup di jalan Islam, jalan lurus, jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT, jalan bagi hamba-hambanya yang diselamatkan di dunia dan di akherat. Sungguh Allah telah berfirman yang artinya :

………….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu……(QS. Al-Maaidah[5]: 3)

Al-Qur’an telah dijadikan oleh Allah sesuatu yang jelas dan dimudahkan untuk dibaca, dimengerti dan diamalkan
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat)………….(QS. Ali-’Imran[2]: 7)
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran. (QS. Al-Qamar: 22)

Al-Qur’an akan terasa dingin sejuk dan menenteramkan bagi orang-orang yang rajin di jalan kebenaran atau bagi mereka yang ingin kembali menempuh kepada jalan kebenaran.
Katakanlah:”Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (QS. Al-Israa’: 107)
dan mereka berkata:”Maha suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. (QS. Al-Israa’: 108)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. (QS. As-Sajdah: 15)

Namun Al-Qur’an akan menjadi Sesuatu yang tidak menarik dan terasa sesak dan menyusahkan bagi mereka yang masih senang bergelimang dalam dosa dan masih mabuk dengan perbuatan dosa, bahkan menjadi kesusahan bagi orang-orang yang berteman dengan syaitan
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (QS. Luqmaan: 7)
Mereka berkata:”Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. (QS. Fushshilat: 5)
Dan al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan-syaitan. (QS. Asy-Syu’araa’: 210)
Dan tidaklah patut mereka membawa turun al-Qur’an itu, dan merekapun tidak akan kuasa. (QS. Asy-Syu’araa’: 211)
Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar al-Qur’an itu. (QS. Asy-Syu’araa’: 212) 


Bahkan bila dosa telah meliputi diri seseorang dan sudah merasa senang dan mendapatkan keuntungan-keuntungan dengan perbuatan dosa, biasanya mereka akan menjadi manusia yang berusaha menghalang-halangi orang-orang yang akan menempuh jalan yang lurus (Al-Qur’an ) dan bahkan membuat jalan yang lurus dibuat-buat menjadi bengkok.
Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali-’Imran: 99)
(yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat”. (QS. Al-A’raaf: 45)
(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (QS. Ibraahiim: 3)

Begitu mudahnya Allah memilah milah umat manusia. Bila seseorang merasakan kelezatan dengan belajar Al-Qur’an maka mereka adalah orang-orang yang biasa hidup dalam kebaikan, sehingga kebaikan yang datangnya dari Allah (Al-Qur’an) akan terasa menenteramkan hatinya. Sebaliknya orang-orang yang terbiasa berbuat mengabaikan kebenaran, melampaui batas, sombong, ingkar, sering berbuat dosa dan kejahatan, Al-Qur’an akan menjadi sesuatu yang susah dan menyesakkan hati.

Begitulah pula bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya yang telah menjadi barometer keutamaan dan kemuliaan manusia di jaman nya hingga jaman datangnya hari Qiyamat. Mereka adalah orang-orang yang amat mencintai Al-Qur’an untuk dibaca, dipahami dan diamalkan dan didakwahkan. Bila seseorang dengan kesibukan di jaman hari ini, hatinya terus menerus terpanggil dengan Al-Qur’an, untuk dicintai, dipelajari dan diamalkan, dan didakwahkan, maka hati orang tersebut masih dalam fitroh kebenaran.

Namun bila dalam jaman yang sesibuk ini, kesibukan-kesibukan kehidupannya telah melunturkan kecintaanya kepada Al-Qur’an, berarti mereka telah menempuh jalan yang salah, jalan yang menjauhkan manusia dari Allah, jalan menuju kesesatan.
Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). (QS. Al-Mu’minuun: 74) 

Kecintaan sahabat-sahabat Rasulullah kepada Al-Qur’an benar-benar merupakan bukti nyata kenikmatan dan kebahagiaan yang beliau-beliau rasakan di dalam dada. Segala keutamaan yang ada pada diri sahabat Rasulullah SAW tersebut bisa kita wujudkan dalam diri kita umat Islam dan kita wariskan turun temurun kepada generasi-generasi selanjutnya, agar dengan itu Rahmat Allah terus menerus turun bagi kehidupan umat manusia di muka bumi.

Dapat dibayangkan betapa susahnya manusia yang hidup tanpa rahmat Allah, dan terus menerus ditipu syaitan atau ditipu oleh manusia-manusia penipu. Untuk kemudian menjauh dari rahmat Allah. Sungguh kita perlu terus menerus berpegang teguh kepada wasiat Allah yang artinya:
dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al-An’aam: 153)

Dan juga wasiat Rasulullah SAW kepada kita semua yang artinya :
Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW. (HR. Muslim)
Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur’an. (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)
Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)
Orang yang dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an ibarat rumah yang bobrok. (Mashabih Assunnah)

Bila kita melazimi kebiasaan baik sahabat-sahabat Rasulullah SAW ini maka kitapun akan mendapatkan keutamaan-keutamaan para sahabat sebagaimana dalam firman Allah yang artinya:
……..tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. Al-Hujuraat: 7)
Setiap hari bila kita hendak pergi bertemu dengan orang banyak, kita selalu berusaha bercermin terlebih dahulu. Agar kita bisa tampil dengan penuh kerapihan dan keindahan. Demikian pula bila kita setiap hari bercermin dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita akan dapat pula merapikan dan menyempurnakan jiwa-jiwa kita, sehingga hidup selalu dalam keindahan ilmu, iman dan amal sholih. Wallahu’alam.

http://www.mta-online.com/2009/11/18/fungsi-bercermin-pada-al-quran-di-setiap-hari/